Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP pada profil SIAKAD dengan nomor terbaru dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.dikti.go.id/

“MENIMBUN BARANG MENUAI PRASANGKA” EKONOMI KOTA MALANG PADA ERA PEMERINTAHAN JEPANG (1942-1945)

| November 5, 2014 | 0 Comments

“MENIMBUN BARANG MENUAI PRASANGKA” EKONOMI KOTA MALANG PADA ERA PEMERINTAHAN JEPANG (1942-1945)

Reza Hudiyanto

Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial UM, Jl. Semarang 5 Malang

Abstrak: Penjajahan Jepang merupakan episode paling kabur dalam historiografi Indonesia. Sebagain besar sejarawan tidak memerhatikan kondisi sosial ekonomi pada periode ini, terutama pada lingkup lokal. Oleh karenanya, tulisan ini mencoba untuk menggambarkan kondisi ekonomi Malang sekitar tahun 1942 hingga 1944. Dari gambaran ini kita bisa melacak akar kekerasan yang terjadi pada tahun-tahun awal Revolusi Fisik. Artikel ini ditulis dengan metode historis. Dari penelitian ini kita dapat menyimpulkan bahwa penimbunan barang oleh pemilik toko bukanlah fenomena baru. Kemarahan sosial, kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan pada awal Revolusi Fisik yang sebagian besar menargetkan orang Cina memiliki korelasi dengan sikap sebagian besar pemilik toko. Melalui penelitian sejarah kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara kelangkaan barang dan gangguan politik. Sumber kemarahan tidak hanya dari perbedaan ras, tetapi juga dari dampak perang pada sektor ekonomi.

Kata kunci: Malang, sejarah, Jepang, orang Cina.

Abstract: The Japanese colonization was the most blurring episode in the Indonesian historiography. Most historians did not pay attention to the social economic condition in this period, particularly in local scope. Therefore, this paper tried to describe the economic condition of Malang around 1942 to 1944. From this overview, we can trace the roots of violence that outburst in the early years of Revolution. This article was written using historical method. From this research, we can imply that pile up of some principal commodity by many shop owners were not a new phenomenon. Social anger, riots, looting, and violence in the early day of Revolution-which most of the target were Chinese, has correlation with the attitude of many shops owners. By the historical research we could draw the conclusion that there were a relation between of goods scarcity and political disturbances. Source of anger not merely from racial differentness but also from the impact of war on the economic sector.

Keywords: Malang, history, Japan, Chinese.

Artikel dimuat dalam Jurnal Sejarah dan Budaya, Tahun kedelapan Nomor 1, Juni 2014, ISSN 1979-9993

Category: Karya Ilmiah Dosen, Scientific Paper

About the Author ()

Leave a Reply