Seluruh Mahasiswa FIS UM wajib memperbarui nomor HP pada profil SIAKAD dengan nomor terbaru dan memeriksa kebenaran data pada http://forlap.dikti.go.id/

Tokoh Pembentuk Komunitas Kristen Pertama di Ngoro, Jawa Timur

| Oktober 20, 2011 | 0 Comments

CONRAD LAURENS COOLEN:

Tokoh Pembentuk Komunitas Kristen Pertama di Ngoro, Jawa Timur

 

Shinta Dwi Prasasti[1]

 

 

Abstract

The spread of Christian in East java started
with opening the new village. A person who came first and teaches Christian to
local society was Conrad Laurens Coolen. He was creating the first Christianity
in Ngoro East Java. He spreads his belief with unite between the pure religion
and local wisdom. This article will describe Conrad journey to teach people in
Ngoro about Christian

 Key Words :  Coolen, Christian
Village, Ngoro

 

Penyebaran agama Kristen di Pulau Jawa kerap kali diasumsikan dengan kehadiran bangsa Barat. Namun,
asumsi tersebut tidak tepat jika dikaitkan pada penyebaran agama Kristen di
Pulau Jawa. Pada rentang tahun 1820 – 1847, Pulau Jawa adalah pulau yang
tertutup bagi proses penyebaran agama Kristen. Kebijakan pemerintah Hindia
Belanda ini lebih bersifat politis karena untuk menghindari keributan yang bisa
mengundang kemarahan para ulama Islam.

Pada kenyataannya, penyebaran agama Kristen di Jawa tetap berlangsung. Hal ini terbukti dengan kemunculan
komunitas Kristen pertama di Jawa Timur pada tahun 1827. Proses penyebaran ini
dilakukan bukan oleh lembaga Zending[2]
resmi. Tokoh penyebar agama Kristen tersebut berasal dari kalangan non Zending. Tulisan ini berfokus pada
perkembangan desa kristen di Ngoro serta peranan dari Conrad Laurens Coolen.

 

Komunitas Kristen pertama di Jawa Timur

Komunitas Kristen pertama di Jawa Timur telah ada
pada tahun 1827. Hal ini ditandai dengan dibukanya persil[3]
Ngoro. Persil Ngoro ini dibuka oleh Conrad Laurens Coolen, ayahnya seorang
Rusia, ibunya berasal dari kalangan priyayi Jawa Solo (Akkeren, 1994:69). Maka
dalam kehidupannya banyak dipengaruhi budaya Jawa.

Hal ini membuat Coolen kerap menggunakan budaya
Jawa sebagai media perantara dalam kegiatan penyebaran Kristen Protestan.
Coolen memadukan budaya Jawa dengan ajaran Kristen untuk mempermudah
penyampaian pada masyarakat. Lombard (2000:100) menyebutkan jika Coolen
mengajarkan agama Kristen yang sangat sinkretis, dengan memanfaatkan tembang[4]
dan dzikir untuk menyampaikan dasar – dasar Alkitab.

Pada saat pembukaan persil tersebut, Coolen memang
tidak serta merta memperkenalkan Kristen, tapi menunggu membaiknya
kesejahteraan penduduk Ngoro terlebih dahulu. Perkembangan Ngoro sebagai desa
Kristen menjadi titik awal dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Masyarakat
Jawa pun mulai mengenal Kristen tanpa melalui penjelasan dari pendeta Belanda.
Hal ini menjadi sesuatu yang menarik karena penyebaran agama Kristen dilakukan
oleh kalangan non-gereja.

Coolen memang bukan berasal dari lembaga Zending manapun. Coolen adalah seorang
mantan tentara yang selama masa dinasnya bertempat tinggal di Surabaya. Dia
adalah seorang mantan tentara Belanda divisi artileri, pada masa pemerintahan
Daendels (Guillot, 1985:31).

Ketertarikannya pada masalah keagamaan memang
tidak diketahui dengan pasti. Ada kemungkinan ketertarikannya  muncul saat dia bertempat tinggal di
Surabaya. Di Surabaya
kemungkinan mulai terjalin interaksi antara Coolen dengan Emde. Guillot (1985:31) menjelaskan kemungkinan
pada saat bertempat tinggal di Surabaya, 
dia berinteraksi dengan kelompok Emde. Interaksi ini tampaknya
memunculkan ketertarikannya pada masalah keagamaan.

Dia kemudian keluar dari dinas ketentaraan dan
menjadi pengawas hutan di daerah Mojoagung[5].
Pada tahun 1827, Coolen memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pengawas
hutan. Coolen selanjutnya memohon izin kepada pemerintah Hindia Belanda untuk
membuka hutan Ngoro menjadi sebuah persil. Wolterbeek (1939 : 20) menyebutkan ”Nalika taoen 1827 toewan Coolen njoewoen
kendel saking pandamalanipoen zinder blandong, toewin pandjenenganipoen
njoewoen idzin moegi kelilana ambabad wono ing Ngoro”.
 Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah
Hindia Belanda pada 3 Juli 1827 (Nortier, 1981:6). 

Pada saat pembukaan, Coolen menerapkan hal yang
berbeda pada persil Ngoro. Coolen tidak menaati anjuran pemerintah Belanda
tentang komoditi yang seharusnya ditanam di persil tersebut. Menurut Guillot
(1985:32) tanaman yang harus ditanam adalah tanaman ekspor yaitu nila, tebu,
kopi dan tanaman jenis ekspor lainnya. Coolen justru menanam padi seperti
halnya orang Jawa. Oleh sebab itu, Guillot (1985:31) menggolongkan Coolen
sebagai kiai[6] Jawa, karena cara yang digunakan dalam
menyebarkan Kristen lebih mirip dengan kiai Jawa ketimbang zendeling[7]
Belanda.

Desa Ngoro adalah sebuah persil, namun pada
kenyataannya, komoditas yang dikembangkan oleh penduduk desa tersebut adalah
padi. Komoditas ini menjadikan desa ini bukan seperti halnya persil pada
umumnya, tetapi merupakan sebuah desa Jawa. Pembudidayaan padi juga merupakan
salah satu daya tarik kehadiran para petani Jawa untuk bermukim di desa Ngoro.
Bagi para pendatang, desa baru ini memiliki sumber penghidupan yang lebih baik
dari tempat mereka sebelumnya. Guillot (1985:32) menyebutkan mereka berasal
dari daerah pinggiran Sungai Brantas yang padat penduduk, dari utara, juga dari
Jawa Tengah dan Madura.

 

Perkembangan Desa Ngoro sebagai Desa Kristen

Pada perkembangan selanjutnya[8],
Coolen kemudian merasa terpanggil untuk mengajarkan Kristen pada penduduk desa
Ngoro. Pada proses pengajarannya tersebut Coolen lebih banyak menggunakan
kebudayaan Jawa sebagai perantara. Coolen menggunakan media wayang dan legenda
setempat. Guillot (1985:33) menjelaskan bahwa Coolen mengajarkan Kristen dengan
mengambil contoh-contoh yang terdapat dalam wayang atau legenda setempat.

Pementasan wayang dilakukan secara rutin pada hari
Minggu. Cerita wayang yang
dipentaskan diambil dari cerita-cerita dalam kitab suci. Dalang dari pentas
wayang itu adalah Coolen sendiri. Wolterbeek (1939 : 25) menjelaskan :

”Saben dinten Akad
pandjenenganipoen ngandaraken tjarijosipoen babad Kitab Soetji sarana
migoenakaken ringgit peonika waoe. Toewan Coolen ingkang dados dalangipoen,
dene ingkang kangge lampahan inggih poenika satoenggaling tjarijos saking Kitab
Soetji”

 Coolen juga menggunakan sarana lain dalam
menyebarkan ajaran agama Kristen. Coolen menggunakan media tembang. Tembang ini
selalu dinyanyikan saat Coolen sedang menanami sawah. Berikut adalah tembang
karya Coolen :

O. berg Smeroe, die de
hoogste zijt van Java’s land,

Aan U zij onze zang gewijd

   Zegen het werk onzer hand

Zegen de ploeg, die
openbreekt de aard,

En maak de aarde het zaaien
waard

   O, zegen de ploeg, die de voren snijdt, ]

   En de disselboom

De klinkende zweepslag op
het vee

   De levenwekkende stroom

   De pas opgeworpen ruggen

Glimmen als een welriekende
zalf

   O, zegen de egge, die gelijk maakt het land,

Waaraan een welgevallen
heeft

Dewi Sri, de godin der
rijst, die rijkdom geeft.

   En bovenal vragen wij zegen en kracht

Van Jezus, die de grootste
is in macht [9]

 

Terjemahan
tembang ini dalam bahasa Indonesia[10]
adalah sebagai berikut :

 O, Gunung Semeru, Kau tertinggi di tanah Jawa, kepada engkau ditujukan lagu
pujaan ini.

Berkatilah hasil karya tangan kami ini. Berkatilah mata bajak yang
menggemburkan tanah yang patut disebari benih dan menyebarlah benih.

Berkatilah penghalus tanah ini. Di tanah inilah Dewi Sri akan bersuka hati,
dewi padi yang memberi kami kemakmuran.

Dan di atas segalanya, kami mendambakan kasih dan kekuatan Yesus, Yang
Mahakuasa. 

 Tembang di atas menyebutkan nama yang erat
kaitannya dengan tradisi  menanam padi di
Jawa. Nama tersebut adalah Dewi Sri, dewi yang dikenal sebagi dewi padi. Dalam
masyarakat Jawa, nama ini senantiasa dikaitkan dengan pengolahan sawah. Coolen
menunjukkan pujian kepada Gunung Semeru. Hal ini juga sesuai dengan kultur
masyarakat Jawa, yang menganggap gunung sebagai tempat suci. Keberadaan tembang
ini menunjukkan bahwa Coolen telah menguasai budaya Jawa dengan baik sehingga
mampu menunjang proses penyebaran agama Kristen di Jawa Timur.

Proses penyebaran agama juga didukung dengan
kemampuan berbicara Coolen dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu, Belanda, dan
Jawa. Coolen menggunakan ketiga bahasa yang dikuasainya ― khususnya bahasa Jawa
― untuk menerangkan isi kitab Injil kepada penduduk desa Ngoro. Sir (1967:13)
menegaskan Coolen sanggup menguraikan isi wahyu Allah dalam kitab-kitab
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu, bahasa Belanda dan
bahasa Jawa. Cara ini membuat penduduk Ngoro lebih mudah memahami isi kitab
Injil.

Dalam rangka menunjang proses pengajaran agama
Kristen di Ngoro, Coolen menetapkan sejumlah peraturan untuk penduduk desa. Peraturan ini memiliki kesesuaian dengan
mata pencaharian penduduk desa, yaitu petani. Dalam satu minggu Coolen memilih
hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat sekaligus sebagai hari untuk
belajar agama. Peraturan di desa Ngoro itu harus ditaati oleh setiap penghuni
desa Ngoro. Sir (1967:14) menjelaskan :

Selaku lurah desa, Pak Coolen membuat peraturan jang harus ditaati oleh
setiap penghuni desa jakni :

  1. Selama 6 hari bekerdja, pada hari Minggu istirahat
  2. Tiap-tiap Minggu pagi berkumpul di pendopo rumahnya mengikuti peladjaran agama, jang
    dibawakannya dengan pertundjukan wajang kulit
  3. Tiap-tiap Minggu petang berkumpul lagi beladjar menjanji dan menghafal kesepuluh Perintah
    dan Doa Bapa-Kami
  4. Dalam hari-hari kerdja penghuni desanja diberi peladjaran bertani, tata tertib rumah
    tangga dan lain-lain jang berguna bagi mereka.

Desa Ngoro
adalah desa Kristen pertama di Jawa Timur, tetapi penduduk desanya tidak
semuanya beragama Kristen. Coolen tidak pernah memaksa para penduduk desa
tersebut beragama Kristen. Dia juga mengijinkan penduduk yang beragama Islam
bertempat tinggal di sana. Bahkan masalah keagamaan orang Islam pun menjadi
bagian dari kebijakannya. Wolterbeek (1939:26) menyebutkan ”Malah pandjenenganipoen inggih maringi toewin ngopeni modin agami
Islam, kangge para tijang Islam ingkang sami manggen wonten ing perceel Ngoro”.

Pada pengajaran agama Kristen oleh Coolen di Ngoro, memang tidak pernah mengajarkan
pembaptisan. Bagi Coolen pembaptisan bisa menjadikan orang Jawa melupakan
kebudayaan mereka. Menurut Nortier (1981:14) Coolen khawatir dengan baptisan,
masyarakat Jawa akan bertingkah laku seperti orang Belanda dan akan kehilangan
watak Jawanya. Maka setelah mendengar adanya penduduk Ngoro yang telah dibaptis
oleh Emde di Surabaya, Coolen pun mengusir mereka.

Orang Kristen Jawa yang telah dibaptis dan
terusir dari tempat tinggalnya ini kemudian ditolong oleh Emde[11].
Mereka kemudian ditempatkan
di Sidokare, Sidoarjo. Di Sidokare terdapat tanah perkebunan milik Gunsch,
sahabat Emde. Wolterbeek (1939 : 35) menjelaskan ”Lantaran pitoeloenganipoen toewan Emde, Kjai Jakoboes, Paulus Tosari
lan kantjanipoen sami dipoenlilani manggen wonten  tanahipoen toewan Gunsch poenika waoe”.

Di Sidokare, kehidupan mereka mulai
mengalami perubahan. Orang Kristen Jawa yang terbiasa menjadi petani kemudian
harus berubah menjadi pedagang. Mereka juga harus belajar menekuni pekerjaan
selain sebagai petani dan pedagang, yaitu menjadi tukang. Wolterbeek (1939:35)
menyebutkan  ”Toewan Gunsch ngatag-atag dateng para tijang Kristen Djawi soepados
sami bikak toko wonten ing kita Sidoardjo oetawi sinaoe dados toekang”.

Perubahan mata pencaharian ini ternyata
tidak sepenuhnya menuai keberhasilan. Banyak di antara orang Kristen Jawa yang
kemudian tidak memperoleh keuntungan yang maksimal. Pada saat itu mulai terkuak
juga kenyataan jika Gunsch tidak sepenuhnya membantu dengan sukarela, melainkan
dengan keinginan untuk mendapat keuntungan. Nortier (1981:28) menjelaskan bahwa
karena tidak ada kemajuan yang diperoleh para pedagang, maka jemaat di Sidokare
mulai mengalami kemunduran.

Orang Kristen Jawa yang bertempat tinggal di
Sidokare kemudian menyadari bahwa sekalipun telah beragama Kristen, mereka
tidak harus berganti profesi. Dalam benak mereka, seharusnya pekerjaan mereka adalah bercocok tanam,
bukan berdagang. Oleh karena itu, mereka mulai meninggalkan Sidokare, untuk
mencari tempat tingal baru yang sesuai dengan agama dan mata pencahariannya.
Mereka kemudian memilih Mojowarno, sebab Coolen di Ngoro tak mau lagi menerima
orang Kristen Jawa yang telah dibaptis.

Desa Kristen Mojowarno[12]
yang berdiri pada tahun 1846 adalah desa Kristen yang didirikan oleh Kiai
Abisai Ditotaruno (Abisai Ditotruno)[13]. Abisai memutuskan membuka desa baru,
setelah merasa tidak nyaman hidup di kota.  
Desa Mojowarno adalah desa Kristen yang mengembangkan basis
perekonomiannya dengan pertanian, seperti halnya desa Ngoro. Berdirinya desa
ini menarik perhatian orang Jawa Kristen yang ada di Sidokare, salah satunya
adalah Paulus Tosari[14].
Tosari kemudian juga berpindah ke Mojowarno.

Di desa ini tidak ada seorang muslim yang
bertempat tinggal. Berbeda dengan Ngoro yang masih mengizinkan orang Muslim
bertempat tinggal. Maka Mojowarno kemudian menjadi desa Kristen pertama
sekaligus pusat pengembangan Kristen Jawa di Jawa Timur.

Terbentuknya desa Kristen di Mojowarno kemudian
diikuti dengan terbentuknya desa Kristen di beberapa tempat. Desa-desa Kristen
ini antara lain desa Kristen Swaru (1857), Peniwen (1880), Wonorejo (1884) dan
desa-desa lainnya. Desa-desa
Kristen ini memiliki kesamaan, yaitu penduduknya adalah masyarakat petani.

Para penyebar agama Kristen bumiputera selain
berasal dari masyarakat petani juga memiliki pemahaman terhadap sistem
kepercayaan tradisional. Coolen
mengajarkan agama Kristen dengan memadukan antara ajaran agama Kristen dengan
kepercayaan tradisional. Dia
kerapkali menggunakan kebudayaan daerah yang sudah disisipi unsur Kristen untuk
mempermudah pemahaman masyarakat Jawa terhadap Kristen. Guillot (1985:40)
menegaskan bahwa Coolen memanfaatkan kepercayaan Jawa yang dibelokkan ke agama
Kristen.

Desa Ngoro sebagai desa Kristen dalam perkembangan
selanjutnya mulai mengalami kemunduran. Kemunduran ini terjadi karena pusat
penyebaran agama Kristen telah berpindah ke Mojowarno. Hal ini juga berpengaruh
terhadap posisi Coolen. Guillot (1985:38) menyebutkan bahwa sejak tahun 1850,
Coolen tidak lagi menjadi tokoh sentral dalam penyebaran Kristen di kalangan
orang Jawa. Pusatnya telah berpindah ke Mojowano.

Desa Ngoro kemudian tidak lagi menjadi persil.
Pemerintah Belanda menolak memperpanjang kontrak Ngoro sebagai persil. Guillot
(1985:37) menyebutkan bahwa pada tahun 1854 Ngoro telah kembali menjadi tanah
milik pemerintah. Perubahan ini membawa konsekuensi bagi para penduduk Ngoro.
Mereka tidak lagi dilihat sebagai penggarap lahan  pertanian, tetapi hanya sebagai penduduk desa
biasa. Sembilan belas tahun setelah Ngoro menjadi desa biasa, Coolen meninggal
dunia. Guillot (1985:38) menyebutkan jika Coolen meninggal pada tahun 1873.

 

Kesimpulan

Kemunculan komunitas Kristen di Jawa Timur bukan disebabkan proses pekabaran Injil oleh para
zendeling Belanda. Komunitas ini muncul karena peranan dari kalangan non
gereja. Tokoh yang pertama memperkenalkan Kristen di Jawa Timur adalah Conrad
Laurens Coolen. Coolen memperkenalkan Kristen dengan cara sinkretis antara
ajaran Kristen dan budaya Jawa. Cara ini memiliki hasil yang bagus, karena
setelah kemunculan Ngoro sebagai desa Kristen pertama, kemudian diikuti dengan
kemunculan desa – desa Kristen yang lain di Jawa Timur. 

  

Daftar Rujukan

 

Akkeren, P. v. 1969. Dewi Sri dan Kristus : Sebuah kajian tentang gereja di Jawa Timur. Terjemahan oleh B.A. Abednego. 1994. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

 Guillot, C. 1981. Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa. Terjemahan oleh Asvi Warman Adam. 1985. Jakarta: Grafiti Press

 Lombard, Denys. 1990. Nusa Jawa Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu : Batas – batas Pembaratan. Terjemahan oleh Winarsih Partaningrat Arifin dkk. 2000. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 Nortier.1939. Tumbuh, Dewasa, Bertanggungjawab. Suatu Studi mengenai Pertumbuhan Greja Kristen Jawi Wetan Menuju ke Kedewasaan dan Kemerdekaan , ±1835-1935.Terjemahan oleh Th. Van Den End. 1981. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

 Sir, M. 1967. Kiayi Paulus Tosari Pelopor Geredja Kristen Djawi di Djawa Timur. Djakarta: BPK

Wojowasito, S. 2001. Kamus Umum Belanda Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Wolterbeek, J.D. 1939. Babad Zending ing Tanah Djawi. Purwokerto: de Boer

 


[1] Penulis merupakan staf
perlidungan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta

[2]Wojowasito (2001) menjelaskan bahwa Zending
adalah pekerjaan atau tugas orang-orang yang menyebarkan agama di luar negeri
(Belanda).

[3]Guillot (1985:32-33) menjelaskan bahwa
persil adalah tanah perkebunan yang dibuka atas izin pemerintah Hindia Belanda
dan jenis tanamannya diatur oleh Belanda. Sementara Wolterbeek (1939:165)
menyebutkan bahwa di dalam persil ini ada kewajiban membayar pajak kepada
pemilik persil tersebut. Pada jemaat yang berstatus persil, pemiliknya biasanya
juga merangkap pendeta, karena pemilik persilnya adalah NZG.

 

[4] Lombard (2000:268) menjelaskan tembang adalah sejenis sajak Jawa, sedangkan
dikir (bhs. Arab : dzikir)
merupakan latihan pengulangan ayat – ayat suci oleh kaum Tarekat Islam.

[5] Guillot (1985:31) menyebutkan daerah ini terletak di Jombang dan Mojokerto.

[6] Penyebutan Kiai di Jawa tidak hanya untuk
para pemimpin agama Islam saja. Menurut Guillot (1985) sebutan kiai juga diberikan pada para pemimpin
Kristen Jawa. Kata Kiai merupakan kata baku dalam bahasa Indonesia, maka pada
penulisannya tidak  dicetak miring.

[7]Wojowasito (2001) menjelaskan jika arti zendeling adalah orang yang menyebarkan
agama di lain negeri.

[8]Peneliti tidak menemukan sumber yang
menyebutkan tahun dimulainya pengajaran Injil di desa Ngoro.

[9]Nortier (1939:8)

[10]Guillot (1985:7)

 

[11]Emde (Johannes Emde) adalah penyebar agama
Kristen Protestan yang bertempat tinggal di Surabaya.

[12]Wolterbeek (1939:36) menyebutkan bahwa
jika desa ini terletak 10 km sebelah utara dari Ngoro dan pada masa itu masih
berupa hutan. Hutan ini
disebut hutan Dagangan.

[13]Guillot (1985:36) menjelaskan jika
Ditotruno adalah salah satu warga desa Ngoro. Ditotruno termasuk kelompok warga
Ngoro pertama (selain Singotruno, Kunto, Tosari dan Ditotruno) yang mendapat
pembaptisan pada tahun 1844 dari kelompok Emde di Surabaya. Pembaptisan ini
membuat Ditotruno diusir dari Ngoro.

[14]Guillot (1985:36) menjelaskan bahwa Tosari
juga termasuk kelompok pertama dari Ngoro ― selain Abisai ― yang mendapat
pembaptisan dari Emde di Surabaya,

Category: Jurnal FIS, Jurnal FIS Edisi Agustus 2011

About the Author ()

Leave a Reply